Thursday, December 21, 2017

Suami Pemarah? Begini Cara Menghadapinya


Pernikahan merupakan sebuah janji suci antara dua insan untuk hidup bersama. Dengan adanya pernikahan, maka seseorang harus siap untuk hidup saling berbagi, saling memahami dan melakukan segala sesuatu atas kesepakatan bersama. Namun, laki-laki dan perempuan tetap memiliki perbedaan baik secara fisik maupun psikis dalam menghadapi masalah maupun cara menyelesaikannya. Selain itu, laki-laki dan perempuan juga memiliki pengelolaan emosi yang berbeda dalam kehidupan mereka sehari-hari termasuk aktifitas mereka dalam rumah tangga


menghadapi suami pemarah


Mengendalikan Emosi, Membuat Kondisi Lebih Kondusif
            Jika Anda merasa bahwa suami Anda adalah orang yang pemarah, simak tips-tips di bawah ini yang bisa membantu Anda dalam meredam emosi suami dan membantunya mengendalikan diri. Tips ini akan membantu kondisi rumah tangga menjadi lebih kondusif dan nyaman.

1.      Tidak melawan dan membiarkan ia marah
Seseorang akan melampiaskan kekesalannya pada hal lain, jika ia tidak mampu menunjukkan kemarahan tersebut secara langsung pada objek yang dimaksud. Misalkan, ketika suami dimarahi atasannya di kantor, maka ia akan lampiaskan pada hal lain. Di rumah  misalnya, ia akan melampiaskan pada istri bahkan anaknya.
Jika hal ini terjadi, hal yang perlu Anda lakukan adalah membiarkan terlebih dahulu dan memberi waktu bagi suami selagi tidak membahayakan Anda dan anak-anak. Tidak perlu melakukan pembelaan dengan cara melawannya. Hal ini dimaksudkan agar suami bisa mengeluarkan apa yang dirasakan. 

jangan melawan suami pemarah


2.      Menenangkan
Ketika semua sudah dirasa tenang, baru Anda mulai bersikap menenangkan suami. Jangan sampai Anda tersulut emosi yang membuat masalah menjadi rumit dan memperburuk keadaan.
Cari cara agar suami bisa menenangkan dirinya hingga merasa stabil. Lakukan dalam keadaan yang tenang, bukan dalam situasi di mana Anda memendam rasa kekesalan kepada suami. Bersiaplah untuk menjadi pihak yang menenangkan dalam kondisi emosional seperti ini.

3.      Memahami
Setiap orang memiliki kecenderungan untuk melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Pada saat emosional, jangan sesekali mengancam ego seseorang dengan sikap atau kata-kata karena akan menambah runyam situasi.
Maka ketika suami mulai menunjukkan kemarahannya, Anda hanya perlu mengatur kondisi Anda untuk memahami suami. Tuntutan ekonomi, kesejahteraan keluarga, pekerjaan, serta persaingan dunia luar bukanlah hal yang mudah bagi seorang suami untuk menghadapinya seorang diri.  Sebagai istri, Anda harus menjadi sosok yang mampu mengerti dan memahami seseorang yang sudah Anda pilih untuk memperjuangkan Anda dan anak-anak sampai akhir hayatnya.

4.      Meminta Maaf
Jika memang emosi suami penyebabnya adalah diri Anda, maka meminta maaf jangan sampai ditunda. Hal baik ini bisa membantu menenangkan emosinya. Jika permintaan maaf tidak diterima, mungkin Anda perlu menyampaikannya berupa tindakan demi untuk kembali menguatkan kualitas hubungan dengan suami seperti sedia kala. Caranya bisa dengan memasakkan makanan kesukaannya, jalan berdua, atau dengan cara lain sesuai hobinya. Dengan hal sederhana yang Anda ciptakan, bisa membantu membuat kondisi lebih kondusif.

komunikasi suami istri


5.      Komunikasi
Komunikasi menjadi peran penting dalam rumah tangga ataupun hubungan sosial lainnya. Karena komunikasi mampu menyatukan kembali perbedaan-perbedaan yang ada melalui penyatuan persepsi dari kedua belah pihak. Ketika keadaan suami sudah tenang, maka Anda bisa mengajak suami mengkomunikasikan kemarahan suami atau masalah yang sedang dihadapi. Anda juga bisa mencari waktu khusus dengan suami membahas semua hal. Dengan adanya komunikasi yang baik, maka Anda dan suami bisa melakukan perbaikan sikap untuk meningkatkan hubungan kualitas pernikahan.

0 comments:

Post a Comment